Senandung indah itu telah kunyanyikan,
Tapi, hatiku tetap sunyi.
Embun jernih telah Menetes di dadaku,
Tapi, hatiku tetap gersang.
Taman suci itu telah banyak orang,
Tapi, hatiku tetap kesepian.
Sayap-sayap cintaku telah kukepakkan,
Tapi, hatiku tetap merana.
Kuangkat semua nyala api kekuatan,
Tapi, hatiku tetap lemah.
Siapa kah engkau ?
Yang membuat hatiku patah berantakan.
Siapa kah engkau ?
Yang membuat si pemain gitar
Tak kuasa pada bunyi dawai nya
Sekarang hatiku sudah lelah,
Dengan perjalanan ini
Untuk
Membuka pintu rahasiamu.....
Dalam luasnya samudera biru
Biarlah kudamaikan jiwaku
Dengan cintamu.......
.
.
.
Sungguh romantis, tapi norak bukan main...
Hahaha
.
.
Kala mendung menggelayuti langit, setiap jiwa terpuruk resah,
Saat terima mentari memanggang bumi, setiap langkah bergerak bimbang.
Ku tapaki setiap jalan untuk menemukan kilau mutiara di balik kegelapan,
Kujunjung segala takdir untuk menjadi hamba yang sesungguhnya...
.
Seperti janji langit mu......
.
Tapi, hatiku tetap sunyi.
Embun jernih telah Menetes di dadaku,
Tapi, hatiku tetap gersang.
Taman suci itu telah banyak orang,
Tapi, hatiku tetap kesepian.
Sayap-sayap cintaku telah kukepakkan,
Tapi, hatiku tetap merana.
Kuangkat semua nyala api kekuatan,
Tapi, hatiku tetap lemah.
Siapa kah engkau ?
Yang membuat hatiku patah berantakan.
Siapa kah engkau ?
Yang membuat si pemain gitar
Tak kuasa pada bunyi dawai nya
Sekarang hatiku sudah lelah,
Dengan perjalanan ini
Untuk
Membuka pintu rahasiamu.....
Dalam luasnya samudera biru
Biarlah kudamaikan jiwaku
Dengan cintamu.......
.
.
.
Sungguh romantis, tapi norak bukan main...
Hahaha
.
.
Kala mendung menggelayuti langit, setiap jiwa terpuruk resah,
Saat terima mentari memanggang bumi, setiap langkah bergerak bimbang.
Ku tapaki setiap jalan untuk menemukan kilau mutiara di balik kegelapan,
Kujunjung segala takdir untuk menjadi hamba yang sesungguhnya...
.
Seperti janji langit mu......
.