Selasa, 11 Juni 2019

Fatamorgana ( rasa kecewa dalam dadaku )


Sebelum aku menuliskan catatan panjang ini, aku ingin minta maaf kepada hatiku sendiri Yang terlalu banyak ku gunakan untuk berharap.

Ketika aku menulis bagian ini, kepala dan hatiku begitu sinkron dengan rasa kecewa dan marah atas harapan -harapan Yang ku semai dalam hatiku,lalu menjadi racun dalam tubuhku.

Aku juga ingin minta maaf kepadamu, Yang mungkin saja membaca catatan ini. Maaf untuk namamu Yang masih begitu mengarat dalam hatiku, namamu Yang selalu jadi penyemangat Saat racun harapan mematikan rasa ku. kamu tidak salah, aku lah yang terlalu berharap mengirai setiap majas dalam puisimu ada aku di dalamnya, mengira bahwa topik tulisanmu adalah aku.

Sejujurnya ada banyak impian yang ingin aku rangkai bersamamu, tapi sekali lagi aku sadar aku bukanlah bagian dari impianmu. Aku yang terlalu pemaksa ya? Memaksakan hatimu untuk menerimaku. Maafkan Aku, tapi izinkan Aku jujur dalam catatan ini.  Untukmu mungkin bagimu tidak pernah ada "kita" tapi bagiku "kita" akan selalu ada.

Dan Ternyata, harapan itu seperti racun ya? Semakin kita memupuknya dengan sehat Semakin besar pula harapan itu meneggelamkan dalam lautan kecewa. Aku sadar, tak ada tempat Yang tepat untuk diriku disisimu, aku tahu jelas itu tapi puisiku selalu menjadikanmu nada-nada Yang mengerat dalam rinduku. Kadang, banyak hal tentang dirimu yang ingin kupercayai memang tercipta untukku,tapi kau masih membisu dan aku tahu dia masih bertahta dalam hatimu bukan? Hari -Hari ku kemarin, ku gunakan untuk meredam rasa rindu dalam dadaku, ingin mengatakannya padamu namun lagi-lagi rasa kecewa kau berikan padaku.

Pernahkah kau merasakan jadi aku? Ingin berharap namun terlalu sering kecewa namun ingin pergi senyummu selalu membuatku kembali.  Sedangkan kamu, kamu tidak pernah jujur tentang rasamu! Lalu bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu rasakan? Kamu biarkan aku meraba -raba isi hatimu yang selalu membuatku ingin marah karena kecewa. Katakan dimana letak salahku? Aku tak ingin pergi, tapi aku ingin meredam harapan yang kutanam dalam hatiku. Kubiarkan kamu bahagia dengan siapapun yang menjadi pilihanmu. Sedangkan aku? Biarkan aku menggengam rindu dan selalu ingin tahu kabarmu.

setelah catatan ini ku akhiri aku ingin mengatakan aku tidak benar-benar pergi, hanya memberikan kamu kesempatan untuk kembali kepada pemilik hatimu. Meskipun itu bukan aku, aku akan menjadi lelaki pertama yang tersenyum untuk mendukungmu.

-Puisi Hujan-

Selasa, 04 Juni 2019

Nyanyian ombak

Segagah sang surya dengan jubah jingganya kala senja.
Sesejuk menatap samudra yang menjatuhi peluk pada si pemilik cahaya.
Semerdu debur ombak yang nyanyiannya selalu dirindui pecandu aksara

Namun.
Aku melihat sang surya tertunduk lesu.
Aku mendengar samudra mengeluh rindu.
Aku bisa memahami lelahnya ombak mengejar dan tak pernah saling temu.

Mereka semua hanya saling jaga. Mereka begitu pandai menyembunyikan luka.

Demi sang surya, agar tetap gagah diangkasa.
Demi samudra, agar tetap indah kala senja.
Demi debur ombak, agar tetap bernyanyi berirama.

Sungguh.
Mereka begitu pandai menyembunyikan luka.
Bermain drama kala senja.
Agar tetap indah dimata manusia.

Tersesat

Anjing-anjing melonglong disetiap gang, berteriak lantang.
petang kali ini akan semakin panjang.
Aku tersesat dan tak ingin pulang, menikmati redup lampu taman terasa lebih menyenangkan daripada silau perkotaan, terlalu berisik, udara serasa mencekik.

Aku merebah pada rerumputan, warna hijaunya tersamarkan kegelapan, menatap langit malam yang nyaris sempurna hitam legam. Angin berhembus sedikit kencang, mebawa mendung menutup gemintang, reranting pohon berderit saling bergesekan, menghempas daun-daun tua meninggalkan pohonnya, jatuh membusuk menjadi kompos yang mulia.

Aku harap malam ini butiran hujan jatuh. Membawa serta gemuruh  berserta kilatan cahaya menggelegar diangkasa. tidak lama setelahnya, hujan benar-benar membasahi semesta, deras, bergemuruh, seperti yg kupinta. Tangan kanan ku aku angkat keatas aku biarkan telapaknya merasakan gelitik dari butiran air yang berjatuhan. Tubuh ku basah, tak apa aku suka, aku memejamkan mata, merasakan tetesan air itu menghantam telapak tangan kananku yg sejak tadi menapak ke udara, dingin, benar-benar dingin, ia menerobos masuk melalui pori-pori,  menjalar melewati pembuluh darah, lantas berhenti di jantung, menyapa, ada yg membeku disana, meratapi kenestapaan, ada yg lebih dingin dari hujan malam ini, ada yg lebih dulu menggigil mendahului basahnya tubuh ini.

Seketika kerongkonganku terasa sakit, bola mataku menghangat, tangisku pecah, air mataku tersamarkan hujan, Isak ku lenyap di telan gemuruh.
Malam ini akan semakin panjang.
Aku masih tersesat, dan tak ingin pulang.

Sabtu, 01 Juni 2019

Masih,.. tentang kamu

Kita pernah berjalan beriringan
Menertawakan hal-hal yg tak penting yg kita temukan
Dan jika aku menutup mata aku masih bisa mendengarnya
Suaramu mengalun jelas ditelingaku dengan indah

Dan saat aku merasa sepi
Bayangmu masih setia menemani
Aku akan terus menjaga semua hal yg masih tersisa
Yg tetap bersinar terang dan tak pernah musnah

Bagaikan langit dimalam hari
Bertabur bintang-bintang yg indah menyinari
Aku mengingat senyummu
Dan senyuman itu masih menjadi hal yg selalu aku rindu

Kadang aku berharap kita masih seperti hari itu
Masih seperti anak kecil yg lugu
Melewati berbagai musim bersama
Dan menatap mimpi yg sama

Meski kita tak lagi bersama
Meski kau tak berubah atau mulai berubah
Kamu tetaplah kamu
Sosok yg masih memenuhi isi diotak dan hatiku

Apa yg kau lihat saat ini?
Apa yg aku lihat saat ini?
Diantara jutaan cahaya yg bersinar cerah
Aku pun perlahan meneteskan air mata.