Selasa, 24 Juli 2018

Diary hidupku

Hujan,.
Deras sekali hujan malam ini
Pernahkah kau merasakan selalu kesulitan mencari tempat berteduh kala hujan turun sedangkan kau sendiri berada di dalam rumah
Bersenda gurau dengan saudara , ayah dan ibu. Hmmm memoriku kembali memutar ulang kenangan itu saat ayah naik ke atas atap membetulkan seng yg bergeser akibat tiupan angin atau bahkan lapuk di makan usia.
Sekali kali berteriak karena takut gubuk tempat kita tinggal tergerus longsornya tanah tepian sungai.
Indah tapi sungguh mengharukan kisah itu, gubuk dimana aku dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang dari kedua orang tua ku ,dan ke enam saudara perempuan ku
Sungguh hidup penuh cinta diatas kekurangan materi yg kita miliki.
Dari kisah kecil itu aku belajar banyak hal terutama nasihat ibu yg selalu didongengkan saat malam tiba bahwa kita harus jujur dengan kehidupan yang kita miliki, jangan pernah menutupi kekurangan yg kita punya (materi), ibu selalu mengatakan jika temanmu tulus maka dia tidak akan mencelah terhadap hidup yg tengah kau jalani saat ini,. Teman sejati tak akan mengurungkan niat hati mengetuk pintu r rumah mu ketika dia tau bahwa kau tinggal di sebuah gubuk reyot di pinggiran sungai.
.
20 tahun berlalu
Meski penuh lika liku pahit manis nya kehidupan
Aku bersyukur dengan kehidupan sekarang walau jauh dari kata sempurna dan kecukupan
Meski setiap hari harus kerja dari pagi hingga malam tanpa henti, hidup ini getir ,  aku sudah terbiasa dengan kesusahan, aku terbiasa hidup berteman air mata, pernah kalian merasakan dipanggil ke ruang guru , karena telat bayar iuran sekolah , ? Itu makanan sehari-hari waktu ku sekolah, yang paling menyedihkan saat kemarahan mereka sampai pada puncaknya aku selalu mendengar kalimat yg mengiris hatiku kala itu : MAKANYA BILANG KE BAPAK NYA JANGAN BIKIN ANAK BANYAK  KALAU TIDAK MAMPU MEMBIAYI HIDUPNYA "
Ya Allah kenapa kalimat itu tak pernah mau pergi dari hidupku.

Beruntung aku punya pribadi yg pendendam
Kalimat itu kujadikan pelecut untuk membuktikan kalau aku akan jadi anak baik2 di hadapan siapapun, masalah nasib dan keberuntungan kuserahkan pada yang diatas.
Atas mana ? Atas atap seng tua yg selalu bocor saat hujan waktu kecilku dulu ??
Hehehe bukan lah maksud ku yg diatas itu Allah Tuhan yang maha esa.
Karena terlalu sering aku mendengar kisah buruk bapak ku yg kemungkinan dibenci orang-orang baik, bapak bukan orang tua yg baik , dengan itu aku janji tuk membuktikan bahwa aku pun bisa jadi anak baik meski bukan keturunan dari keluarga yg baik-baik.
.
Maaf bapak bukan aku menyalahkanmu
Bapak tau kan kalau aku sangat menghormati bapak, saat duduk di bangku SMA pun aku masih ketakutan saat bapak Kalaf melecutku dengan sebilah bambu.
.
Bapak, meski kau sudah tiada, aku masih berpegang pada nasihat ibu.
Ibu selalu mengajari aku tegar, bagaimana kuatnya ibu bertahan menjalani kehidupan ini.
Ibu selalu mengajarkan untuk selalu jadi jiwa yg selalu bersedia menolong, selalu berbuat baik kesesama terutama teman dan orang terdekat denganku , untuk kebaikan yg pernah kau lakukan jangan pernah mengharap balas Budi dari manusia, hidup ini sebab akibat.
Setiap kau berbuat baik maka Tuhan selalu merencanakan balasan yg setimpal meski bukan dari orang yg telah kau tolong.
Itu nasihat ibu yg selalu terngiang di hari hariku.

.
Ahhh entah kenapa hujan malam ini memanggil semua kisah itu , memutar ulang drama kehidupan yang pernah kujalani.
Kisah itu, hidup sengsara tapi penuh cinta yg kita jalani.
Bapak ibu aku rindu,  untuk bapak semoga disana kau tersenyum  di surganya Allah SWT
Untuk ibu , tetap jadi wanita tegar yang ku kagumi , jaga terus kesehatan nya ibu tercinta.

Senin, 23 Juli 2018

Malam beraroma kenangan

Malam ini hujan mengguyur ramah.
Gemercik ringan meluas dan menggenang.
Aroma malam terasa lebih dalam,  bersama hembusan angin dan jadilah dingin yang teramat dalam.
Penantian esok masih panjang,  ada beberapa waktu lagi menunggu pagi.
Entah,  akan berhenti disini atau berlanjut dan reda esok hari.
Tak tahu.

Semakin kusut pikiran ini,  menjelma menjadi pena-pena yang siap menghantam putihnya kertas.
Mengukir segala isi hati,  menjadikannya sebagai gambaran di dalam sunyi.

Entah.
Segalanya tentang esok.
Esok dan esok.

Hari ini rasanya masih tentang esok.
Difikir berapa kalipun esok lebih dinanti. Merindukannya,  sampai hujan tlah terasa hilang.
Kemudian senyap.

Tak tahu,  sampai kapan rasa rindu ada.
Mengubah nama?  Atau menghilangkan memori kata "rindu" di dalam otak?
Percuma. Telah jauh di sebrang samudera.
Percuma. Ada bunga indah disana.

Ombak membawaku kepada esokpun,  aku masih belum tau kenyataan seperti apa yang dirasa.
Biarlah semua sirna.
Malam ini cukuplah aku mengenang hujan,  karena sebentar lagi hujan kan menjadi kenangan yang akan datang lagi ketika tiba waktunya.

Benar saja.
Hujan sudah reda.
Ku tunggu (lagi)

Malam beraromakan kenangan.