Rabu, 30 Mei 2018

Gundah

Kini aku hanya bisa tertunduk lesu
Meratapi segenggam penyesalan yang tak berarti
Goresan senja menjadi saksi bisu kepedihanku
Jangankan menikmati cinta
Menanggung segenggam rindu saja
Aku harus menggoreskan luka di hati
Ketika ia datang menghampiri

Entahlah...
Aku slalu mencoba menikmati segalanya dalam dekapan sunyi ..

Penikmat sepi

Apalah daya ku
Jangankan memetik kebahagiaan
Menanggung segenggam kerinduan saja bagai menggenggam  air lautan yang begitu sulit di dapatkan

Bahkan tak jarang aku menjadi pembunuh kejam
karena dalam setiap detik ketika rindu itu datang
diri ini harus menggoreskan luka di hati
Begitu pahit tuk di nikmati
Aku hanya bisa bersembunyi menikmati hidup dalam selimut sepi

.
Bogor, 30 Mei 2018

Jumat, 25 Mei 2018

Pantaskah cinta dibayar dengan luka ?

Setabah mendung pagi ini
Yang hadirnya diumpat dalam hati
Padahal ialah yang paling paham makna merelakan
Membersamai hujan walau akhirnya harus melepaskan

Soal kehilangan?
Hei, dia bahkan rela di tiadakan

Sesabar mendung pagi ini
Yang hadirnya pasti dimaki
Padahal ialah yang paling paham makna kehilangan
Walau luruhnya sudah pasti meniadakan awan
Namun demi semesta
Ia rela, kehilangan dia yg selalalu membersamainya
Ia rela, walau harus jatuh dengan luka

Pantaskah cinta di bayar dengan kehilangan?
Barangkali hujan tahu jawabannya

Senin, 21 Mei 2018

Aku, hujan dan kenangan

Kenangan kembali memburai
Bersama rintik hujan dimalam ini
Hadirkan lagi sebuah bayangan
Yg masih saja tak mampu kulupakan

Waktu terus berganti
Namun hati tak juga berhenti menanti
Orang yg sama
Kisah yg lama

Mungkin aku memang tak pandai bersiasat berbagi tempat
Hingga melupakan bagiku itu terlalu sulit
Dan pada saat aku menulis tulisan ini
Aku masih saja tak berhenti berharap kau kembali

Ya, aku tau apa yg aku rasa ini kekanak-kanakan
Mengharapkanmu kembali hanyalah kebodohan
Namun aku tak bisa membohongi diriku
Aku masih teramat mencintaimu

Jumat, 18 Mei 2018

Dan aku...

Dan kaupun berjalan pergi
Melewati indahya senja
Menuju gelapnya malam
Dengan berbekal perih
Dan stampuk kecewa
Yg kau bawah bersama matamu yg lembam

Dan aku
Hanya terdiam membisu
Mengiringi kepergianmu
Dengan sebongka perih dihatiku

Maafkanku
Aku tak pernah bermaksud memberikan luka untuk hatimu
Semua hanya keterbatasanku saja
Sebagai manusia yg tak luput dari dosa

Seandainya saja aku bisa memutar kembali waktu
Aku pasti akan memperbaiki segala kesalahanku
Mencoba lebih keras untuk membuat bahagia hidupmu

Atau jika kamu mau memberikan kesempatan sekali lagi untukku
Aku akan berusaha dengan keras untuk mengobati segala luka hatimu
Namun rasa kecewamu terlalu besar padaku
Hingga tak ada secuil pun kesempatan yg kau beri untukku

Sudahlah....
Menyesali hanya akan menambah sesak didada
Biarlah aku akan mencoba ikhlas untuk melepasmu pergi
Pedih ini memang begitu perih
Tapi aku mengerti
Aku hanya bisa menyelipkan do'a untukmu
Agar kebahagian selalu menyelimuti ditiap langkahmu

Sabtu, 12 Mei 2018

Sajak untuk : Feby surya Abdullah


Anak siapakah engkau
Berlarian dalam lautan hitam
Mengapa tak bersinar bintang di matamu
Belum lelahkah anganmu
Mencari rindang pohon disarang embun
Mungkin diatap rumah mimpi terhampar kapas kehidupan mu

Anak siapakah engkau
Kalau terhapus juga bintang dalam lukisan hidupmu
Bagaimana aku mewarnai airmata mu

Bogor, 13 Mei 2018
By : Dedy fortozora