Rabu, 27 Desember 2017

Takut untuk Jatuh cinta kembali

Aku pernah hampir menyerah, sampai akhirnya dia datang menguatkan.
Aku pernah nyaris putus asa, sampai suatu ketika dia datang mengubah duka menjadi suka.

Aku pernah ingin berkata sudah, sampai akhirnya dia menawarkan bahagia untuk jangka waktu yang lama.
Hingga pada suatu titik, aku menjadikannya tempat berpulang ketika lelah. Menjadikannya penampung keluh kesah, sampai menjadikan dia sebagai penasehat paling hebat.

Tak ada lagi yang lain selain dia. Karena bagiku, dia itu sesuatu yang disajikan semesta untuk membuatku bahagia.

Hingga pada suatu titik balik, aku disadarkan oleh dirinya sendiri.

Aku terlampau salah menilainya.
Aku terlampau lugas memaknai janjinya.
Aku terlalu mudah untuk menjadi percaya.

Karena tahukah?

Di saat aku benar-benar membutuhkannya, di saat itu pula dia membuatku kecewa tak terkira.
Sampai akhirnya aku memilih berpindah dari dia yang membuatku terluka.
Kini, aku berada di antara riuhnya hati yang takut untuk jatuh cinta kembali.

Selasa, 26 Desember 2017

Untuk Malam ini

Malam ini, boleh aku berkata rindu? Meskipun kita sudah mustahil untuk bertemu, setidaknya aku masih bolehkan untuk melibatkan namamu dalam sepertiga malamku?

Perihal luka sudah aku serahkan kepada Sang Maha Penyembuh. Kamu tak usah merasa bersalah. Sebab, masing-masing dari kita memang punya kesalahan yang sama.

Maaf, jika dalam percapakan panjangku kepada Tuhan selalu saja tentangmu. Bukan bermaksud untuk tidak menerima kehendak-Nya, hanya saja aku masih belum terbiasa meniadakan segala tentangmu dalam semestaku.

Merelakan juga butuh proses yang sangat panjang. Proses yang selalu membuatku babakbelur karena dihajar rindu. Aku di sini sendirian memeluk rindu ini. Kesakitan, tanpa ada penawar yang bisa menyembuhkan luka.

Malam ini, boleh aku berkata rindu? Setidaknya sekali saja dengarkan suara hatiku. Pulanglah walau hanya bersinggah. Hatiku sudah terlampau rindu, aku kesulitan jika harus memeluk rindu ini sendirian.

Malam ini, boleh aku menemuimu? Setidaknya dalam mimpiku. Datanglah walau hanya dalam alam bawah sadarku. Nanti akan aku ceritakan hari-hari tanpamu, ada banyak kisah yang terlewatkan setelah kepergianmu.

Maaf, jika aku masih saja tak bisa melupakanmu. Sekeras apa pun usaha untuk melupakanmu, pada akhirnya usahaku akan selalu terbentur dengan rindu.

Malam ini, boleh aku mendoakanmu? Meskipun pesanku tak pernah sampai pada rumah hatimu, namun ada Tuhanku yang dalam lisanku akan senantiasa menyampaikan pesan rindu ini kepadamu.

Semoga Sang Maha Penyembuh lekas memberikan penawar luka yang aku derita. Karena aku tak tahu lagi harus kemana mencari obatnya selain mendekatkan diri kepada-Nya.

Malam ini aku ingin sendiri, tenggelam dalam sunyi sembari memperbaiki hati yang telah kau hancurkan bertubi-tubi.

Sabtu, 09 Desember 2017

Bapak pergi

Jika di ilustrasikan mungkin seperti ini gambaran kata-kata  ibu saat bapak pergi

"Anakku Bujang,

Pagi ini, bapakmu telah tiada. Bapakmu telah pergi selama-lamanya. Dia wafat dengan tenang sambil menyebut namamu lirih serta mendekap figura fotomu. Bapakmu sudah sakit-sakitan sejak sebulan lalu. Mantri dari kota kecamatan tak kuasa lagi menolongnya.

Siang ini juga, bapak kau telah dikebumikan. Seluruh penduduk talang datang, pemakamannya ramai. Banyak yang mendoakan bapak kau. Maafkan mamak jika tidak pernah memberitahumu perkara bapak kau sakit keras, bujang. Tapi itu pesan bapak kau, agar kau tidak memikirkan banyak hal. Tentu ada banyak pekerjaan yang harus kau lakukan di kota sana. Bapak kau cemas jika kabar sakitnya mengganggumu.

Semoga kau senantiasa sukses disana, Nak. Kau tahu, bujang, tiada pernah alpa walau semalam pun, tiada pernah tinggal walau seharipun, bapak kau mendoakan kau yang terbaik. Dia selalu merindukanmu, selalu menyebut namamu dalam doa semasa hidup.
Ingatlah apapun pesan bapak  kau, Bujang. Patuhi hingga kapanpun.

Mamak kau, Ruy"

Sumber : Novel pulang - tere liye