Sebentar saja...
Ijinkan aku terlelap dalam tidurku.
Hanyut dalam mimpi-mimpi malamku.
Sebentar saja...
Biarkan aku terlena bersama peri-peri alam mimpiku.
Hingga aku mampu melupakan segala nyeri dihatiku.
Sebentar saja....
Sebentar saja...
Ijinkan aku terlelap dalam tidurku.
Hanyut dalam mimpi-mimpi malamku.
Sebentar saja...
Biarkan aku terlena bersama peri-peri alam mimpiku.
Hingga aku mampu melupakan segala nyeri dihatiku.
Sebentar saja....
Dibawah sinar bulan yg temaram..
Rasaku kembali membisikan tentang rindu yg terpendam.
Menghamparkan gelisah pada setiap sisi sepi.
Berselimut dingin angin malam di akhir februari.
Namamu mengakar di sanubari..
Tak mampu sedikitpun untuk ku akhiri.
Lelah tak juga punah.
Hingga linang kembali membasah...
Didalam kesunyian ini.
Aku kembali membayangkan senyumanmu yg dulu biasa kini tak ada lagi.
Akupun semakin larut dalam lamunaku.
Sebab disanalah aku mampu memilikimu seperti dulu.
Hingga malam semakin larut.
Rindu itu semakin mengganggu akal sehat.
Mengurai sedikit demi sedikit kewarasanku.
Hingga kegilaan menguasaiku.
Lama sudah aku menanti sebuah keajaiban, hingga akhirnya tumbuhlah harapan yg begitu tinggi dalam diri ini. Harapan itu tak pernah padam, harapan itu hanya satu kata yaitu "sembuh".
Satu yg tak pernah kusangka ternyata aku harus bersahabat dengan kanker, ragaku dikuasai olehnya, dan bukan hanya sekarang, tapi mungkin selamanya. Kesabaran selalu menemaniku saat aku berusaha menahan yg sudah kurasakan selama setahun ini., meski terkadang airmata tak henti-hentinya menetes dipipiku, air mataku menetes saat itu karena aku merasa belum siap menerima kenyataan, aku masih ingin merasakan indahnya sehat, walau tangis tak membuat kanker ini pergi, tapi setidaknya tangis telah mengurangi beban dalam diriku. Aku berusaha tegar menerima segalanya, menerima sakit ini, layak tegarnya karang yg dihempas ombak lautan.
Harapan untuk sembuh itu tak pernah hilang, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun,. Dan kini "serigala" itu telah menggerogoti organ tubuhku serta berkuasa didalamnya telah satu tahun lamanya. Aku tak tahu apa yg dicari dan diinginkan serigala itu hingga tubuhkulah yg dipilih untuk dikuasainya. Tapi aku percaya Engkau telah memberi tugas kepada kanker ini untuk menguji seberapa besar kesabaranku, untuk memberikan beribu hikmah dan makna dalam hidup yg dulu belum pernah aku rasakan kenikmatan itu dan betapa besar manfaatnya untuk hidupku. Dan aku mulai menerima, karena aku yakin ini adalah tanda kasih sayang-Mu kepadaku.
Bagiku aku adalah orang pilihan karena aku yakin tidak semua orang bisa melewati semua ini., bnyak orang yg lebih memilih mengakhiri hidup sebelum waktunya karena merasa tak sanggup untuk melewatinya.
Aku yakin, tidak semua orang mampu melewati ujian yang begitu berat ini. Awalnya akupun begitu. Keputusasaan mulai menghampiriku, aku selalu menangis menangisi takdir yg tak berpihak kepadaku,. Tapi semuanya berubah, seiring datangnya berbagai dukungan kepadaku, dari kluargaku, dari dokter yg menanganiku, dari teman-temanku, saat mereka memberi dukungan itu aku kembali menangis, tapi bukan tangis keputusasaan, tapi aku menyesal kenapa aku harus menangisi takdir ini.
Karena aku yakin ini adalah jalan terbaik dalam hidupku. Dan aku bersyukur karena sakit ini telah membuat hidupku lebih berarti, membuatku lebih tahu betapa banyak orang yang menyayangiku,.
Dan satu permintaanku, jika aku menghadap-Mu nanti, izinkan aku berada di tempat yg paling indah dan bahagia berada disisi - Mu.
Pada lamunan yg entah mengarah kemana.
Aku menyesap secangkir teh dengan sedikit gula.
Dibalik jendela tak bertirai.
Rintik hujan kembali menyapa sekeping hati yg sedang dilanda cedera.
Kamu tahu ???
Hujan itu hanyalah sekumpulan resah,
yg meniadakan semua gelisah.
Seperti inginku untuk merengkuhmu dalam sebuah peluk dan meniadakan gundahmu.
Atau mungkin justru aku yg sedang menghilangkan gundahku akanmu, entahlah......
Seperti mereka.
Akupun ingin selalu bisa datang menemuimu dengan bebas tanpa apapun.
Seperti bintang yg menghiasi malam dengan keindahannya.
Nyatanya, malamku hanya ada rintik-rintik hujan.
Dan entah pada sesapan teh keberapa, ketika hujan berubah menjadi gerimis.
Aku yg terlalu terlarut akan kenangan kita yg dulu begitu manis.
Aku terlupa akan garis hidup yg aku tempuh.
Sebab semua yg aku ingat hanya kamu dan kamu.
Apakah semua harapan ini harus diselesaikan.
Ketika rindu ini mulai memberatkan langka kaki.
Namun aku masih ingin menuliskan tentangmu dan segala kerinduan.
Dan aku tak tau pada kalimat mana semua harus aku sudahi.
Karna dari semua yg ada, hanya kamu yg aku sebut rindu.
Hingga aku menyediakan diri untuk luka yg terus menggerogati kewarasanku.
Sebab, kamu telah menjadi rindu yg tak berjeda.
Yang takkan pernah usai, entah sampai kapan dan dimana.
Katanya sayang...
katanya peduli....
Lalu kemana saat aku butuh ??
Kemana saat aku lemah tak berdaya dan terkapar seperti ini ??
Dalam gelap aku ungkap berjuta kata maki...
Dalam gelap aku mengumpat sejadi-jadinya..
Tapi pada siapa ???
Nyatanya aku cuma sendiri.
Jangankan menemani.
Mengulurkan tangan pun enggan.
Bahkan kehadiranmu pun tak kurasakan.
Kau menghilang, tepat saat aku membutuhkanmu.
Dan lagi....
Aku hanya bisa menggigil kedinginan,
dan meringkuk sendirian disini.
Pada sendok yg beradu didinding gelas samar-samar aku mendengar kau berbisik mengucapkan rindu untukku.
Diantara uap yg mengepul dari secangkir teh, aku bisa melihat bayanganmu disana, tersenyum mesra kepadaku.
Dan saat kureguk aroma tehku, terasa hangat menjalar keseluruh tubuhku, mengingatkan aku akan sosokmu, yg selalu hadirkan kehangatan saat kau ada disisiku.
Seandainya kau ada disini denganku, tak terkira betapa indahnya malamku.
Karna ku rindu kamu.
Semua perbincangan dimalam-malam itu.
Segala cerita yg dibagikan itu.
Itu semua hanya basa-basi belaka.
Retorika semata.
Nyatanya, kamu hanya benci sendiri.
Kamu hanya ingin ditemani.
Tak kurang tak lebih.
Begitulah yg terjadi.
Aku hanya telinga untuk mendengarkan segala ceritamu.
Hanya hati yg dijadikan pelampiasan segala emosimu.
Untukmu aku hanya sesuatu yg tak berharga.
Sekedar tong sampah tempatmu membuang segalah resah.
Aku memang tak sepantasnya berharap lebih.
Namun apa yg bisa aku lakukan.
Perbincangan denganmu selalu menyalakan terang dihati.
Segala tentangmu menghadirkan kenyamanan.
Terlalu cepat pagi datang.
Meski bulan masih enggan untuk pulang.
Dan disisa-sisa malam ini ,,
Diantara binar-binar cahaya yg mulai menyinari.
Saat mata mulai terasa begitu lelah terjaga.
Saat pikiran terasa letih bekerja.
Aku selipkan satu do'a.
Semoga semesta sudi mengabulkannya.
Sebuah do'a kecil untuk memulai harimu.
Do'a yg akan menjadi penutup hariku.
"Semoga kau selalu sehat dan bahagia disana"
Aku sadar siapalah diriku.
Aku bukanlah sesuatu yg istimewa untukmu.
karna dari itu, Aku tak perlu ada saat bahagiamu.
Aku pun tak berharap kau akan mengingatku saat bahagia menjadi mahkotamu.
Aku cuma ingin kau akan mengingatku saat luka menyapamu.
Karna aku pasti akan jadi orang pertama yg berlari mendekatimu saat luka itu menyakitimu.
Seperti saat ini.
Aku tak perlu ikut andil merayakan hari yg paling berkesan untukmu ini.
Aku cukup melihat dan ikut tersenyum dari sudut sini.
Dan setelah euforia kebahagiaanmu perlahan memudar.
Dan hari istimewa ini akan berakhir.
Saat itulah aku akan datang
Sebagai orang yang..........
😥😥😥
Senja selalu saja menuntunku dalam cemas yg tak tentu.
Menculik satu persatu kelip bintang yg biasa kita eja diberanda pada malam-malam itu.
Entah sudah berapa lama aku tak menyalahkan lentera dikepalaku.
Untuk mengingat bahwa matamu adalah kunang-kunang penghias gulitaku.
Senja selalu saja mengajakku dalam gelisah.
Dan bagaimana lagi aku bisa mengingatmu saat gelap melanda?
Sedangkan kenangan semakin surut bersama magrib yg basah.
Kesalahanku...
Yg tak pernah bisa menjadi sesuatu yg kamu mau.
Membuatmu perlahan-lahan meragu akanku.
Membuat hubungan ini semakin jauh dari apa yg kita harapkan dulu.
Kekhilafanku ...
Yg begitu sering melukai perasaan.
Membuat langka ini terasa semakin memberatkanmu.
Apakah kini harapan itu hanya tinggal kenangan.
Aku yg terlalu naif akan semua ini.
Begitu mempercayai bahwa cinta mampu melewati semua rintangan yg terjadi.
Nyatanya, cinta tak cukup kuat untuk bertahan.
Jika tak ada rasa kepercayaan.
Bila hatimu bukan lagi yg ku tau, yg selalu menguatkan langkaku.
Bila mimpi bukan seperti yg dulu, yg selama ini kita tuju.
Bila dirimu tak lagi inginkan aku, tak mengapa jika itu yg membuat bahagiamu.
Ku rela menjauh.
"Daripada orang lain, aku lebih rela waktu yg menyembuhkan segala lukamu"
Berbekal ungkapan itulah akhirnya aku beranikan diri untuk maju dan mengungkapkan semua rasa yg telah ku pendam selama bertahun-tahun itu. Sebab, dari semua yg aku rasa, yg aku alami, dan dari semua yg telah aku jalani, kamu adalah orang yg paling membuatku merasa berarti. Yg selalu mampu hadirkan kenyamanan dalam setiap keresahan yg aku rasakan.
Hingga aku percaya, bahwa kamu adalah Bidadari penyelamat yg Tuhan kirimkan untukku. Untuk menyembuhkan segala luka dan membuat hidupku lebih berwarna.
Bersamamu, ku merasakan bahagia yg seutuhnya.
Kau mampu memberikan semua hal yg selama ini aku rindukan. Kasih sayang yg tulus dan menghangatkan jiwa. Bersamamu, ribuan kisah telah aku lalui. Meski tidak selalu indah, namun semua sungguh bermakna. Bersamamu, semua seakan sempurna.
Hingga aku percayakan hatiku sepenuhnya padamu.
Kuserahkan segalanya untukmu.
Dan ku pertaruhkan seluruh hidupku padamu.
Namun, semesta punya rencana lain.
Kamu adalah hidupku.
Udara yg selalu aku hirup disetiap nafasku.
Dara yg mengalir diseluruh sel tubuhku.
Kini semesta memisahkanku denganmu. Aku limbung, jatuh dan terkapar. Lumpuh dan tak berdaya saat aku menyadari aku tak bisa lagi memilikimu.
Kau telah pergi jauh dari lingkaran hidupku.
Tanpamu, aku tak tau lagi kemana langka harus menuju. Tersesat dan tak tau arah jalan pulang.
Sebab, kaulah yg selama ini aku tuju dan tempatku kembali.
Dan kini ku tak lagi bersamamu.
Meski luka ini begitu dalam.
Sakit ini terasa sangat perih.
Dan semesta seakan begitu angkunya memisahkan kita.
Mungkin harapan ku untuk bersamamu hanya tinggal kenangan.
Walaupun aku takkan bisa lagi bersamamu.
Namun aku masih percaya, kaulah orangnya.
Bidadari Penyelamat yg Tuhan kirimkan untukku.
Bernyawa tapi tak hidup
Begitulah aku tanpamu
Jadi, Kembali lah.
Berikan lagi aku kasih sayang yg dulu
Hidupkan lagi jiwaku yg tlah mati
kau yang datang bersama hujan, singgah datang ke rumahku.
Mengetuk jendela kamarku.
Mengajakku untuk menikmati hujan yg mengantarmu kesini.
kata orang "hujan hanya air yg jatuh dari langit. Yg hanya membuat basah dan dingin"
ada sesuatu yang berbisik dalam hatiku "ada yang ingin menipumu"
bagaimana mungkin aku tak tau, bahwa hujan adalah kenangan yg jatuh bersama rasa yg masih mengutuh.
Sebab, ketika hujan turun, aku dapat menemukanmu dimana-mana
Ada sesuatu yg harus dan ingin aku sampaikan.
Sesuatu yg selama ini terus membuat sesak dihati.
Sebenarnya apa arti dari penantian ini ??
Aku ingin kamu berterus terang, bukan hanya padaku, tapi juga pada dirimu sendiri. Tentang apa yg sesungguhnya kau harapkan dari kisah ini.
Kau harus sadar.
Kisah ini semakin lama semakin membuatku rapuh.
Semakin melemahkan langkaku untuk berjalan dihari esok.
Aku lelah menerka-nerka tentang apa dan bagaimana perasaan yg ada dihatimu.
Jujurlah. Katakan apa yg seharusnya dikatakan. Jangan mau tak mau seperti ini. Berhentilah menyiksaku dengan segala ketidakjelasan ini.
Aku tau kamu menginginkanku.
Dan kau tak membiarkan aku untuk kalah.
Namun disaat yg sama, kau pun tak mengijinkan aku untuk menang.
.
.
.
.
Bingung kelanjutan nya.. Coba teruskan....
Tak perlu aku ungkapan alasan mengapa kau begitu berharga.
Biarlah jutaan cerita yg menceritakan betapa berartinya dirimu didalam jiwa.
Kita pernah meramu mimpi untuk bersama.
Berjuang mewujudkannya.
Meski semua tak mudah.
Namun kita selalu temukan cara untuk tertawa.
Karna bersamamu semuanya terasa indah apa adanya.
Ruang sudut kamar tua.
Aku terdiam memikirkan semua hal yg pernah kita bagi bersama.
Secangkir teh hangat menemaniku melewati senja.
Kala ribuan perasaan tak sanggup terucapkan kata.
Aku tuliskan rangkaian kata untuk mengenang sebisanya.
Saat air mata sedihmu mengungkapkan kekurangan yg tak kumiliki dari dirinya.
Tak juga kering, semua luka itu tetap basah.
Betapa aku mengerti hadir hujan yg selalu menderingkan pesan rasa.
Semoga kau masih menuliskan namaku dalam halaman harimu yg kau lalui.
Hingga senja mengantarkan kita kedalam malam yg sunyi.
Biarkan dunia masih saja riuh dengan segala yg dia tawarkan.
Kutenggelamkan diri sedalam-dalamnya pada kesunyian.
Hingga dunia tak mampu mengenali.
Dan dalam kesunyian ini aku merindukanmu dan semua yg pernah kita jalani.
Tepat setelah cahaya terpadamkan.
Kau bersinar sebagai satu-satunya yg kurindukan.
Ditempat ini aku berdiri.
Menulis kata mengukir kenangan yg masih mengendap dihati.
Dalam kesepian anganku melayang diantara pekat aroma kopi.
Diantara malam yg semakin memberikan kesunyian.
Bayangmu datang menyapa sebagai satu-satunya yg kuharapkan.
Didalam peluk yg pernah kau nikmati.
Aku masih sendiri, berharap kau akan datang kembali.
Pada kegelapan yg melahirkan kenangan.
Aku membicarakan tatapanmu yg selalu menyejukan.
Senyum mu yg tak pernah lepas dari ingatan.
Meski yg kini terasa hanya kehilangan.
Ku ingat lagi satu kisah yg pernah kita upayakan.
Mimpi-mimpi yg selalu kita harapkan.
Semua hancur berantakan.
Saat kau memilih untuk pergi sebelum satu persatu rencana yg kita perjuangkan terwujudkan.
Dan kini, yg tersisah dari semua ini hanyalah goresan yg kuabadikan sebagai prasasti kesendirian.
Memikirkanmu adalah kebiasaan yg belum bisa aku abaikan.
Sebab melupakanmu adalah pencapaian yg masih menjadi mimpi.
Karna dihatiku, kau masih satu-satunya yg mendiami.