Dedy fortozora

Sabtu, 03 Agustus 2019

Kisah yg telah usai

Kepadamu yang dahulu pernah singgah, lalu tiba-tiba pergi tak kunjung kembali. Terima kasih telah mengajarkanku bagaimana caranya untuk tegar menahan diri.

Kamu hadir di dalam kisah hidupku. Dengan rasa sepenuh hati, aku berusaha untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan, aku berusaha untuk menjadi seperti apa yang kamu harapkan, dan aku berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu. Namun sebaliknya, kamu tidak menaruh perasaan yang sama kepadaku. Mungkin memang benar, hanya aku sendiri yang berjuang untuk mendapatkan semua itu darimu, sedangkan kamu lebih memilih acuh tak acuh terhadap perasaanku selama ini.

Mungkin, perasaan ini sedang bercanda. Dimana aku berharap lebih kepadamu, sedangkan kamu malah menghiraukannya. Seolah-olah kamu tak menganggap bahwa aku ada. Aku berjuang sendiri, sedangkan kamu lebih memilih untuk pergi. Kini, perasaanku hanya berteman dengan sepi.

Aku tak bisa menyalahkan dirimu yang telah beranjak pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri yang tak bisa meyakinkanmu untuk tetap bertahan disini.
▪▪▪

-Lelaki penikmat hujan-

Jumat, 05 Juli 2019

Harris J - Human ( lirik dan terjemahan )

Karena saya suka banget lagu ini
Titip disini aja lirik dan terjemahannya.

Harris J - Human Lyrics 

I cry when no one knows I'm crying
I love even though I'm scared
I smile 'cause everybody's smiling
I try so hard to just be like the rest
I live 'cause everybody's living
It's strange I don't feel home when I'm at home
I'm really scared to always keep on giving
My biggest fear is to end up all alone

I'm only human, I'm human
Just a human, don't you know?
I'm only human, I'm human
Sometimes I think I gotta let it show

My days are always better when it's sunny
My hair looks better when it's in the rain
I laugh too much when things aren't always funny
But I'm really good at hiding all the pain
My favourite thing to ever do is stare up at the stars
If I could I swear I'd lay there every day
And everybody says to me, "Remember who you are."
But it's those same people leading me astray

I'm only human, I'm human
Just a human, don't you know?
I'm only human, I'm human
Sometimes I think I gotta let it show
I'm only human, I'm human
Just a human, don't you know?
I'm only human, I'm human
Sometimes I think I gotta let it show

For now I live, one day I'll die
I hope I'm content with the fact that I've tried
Don't need my regrets, leave it all on the line
'Cause this life is mine

I'm only human, I'm human
Just a human, don't you know?
I'm only human, I'm human
Sometimes I think I gotta let it show
I'm only human, I'm human
Just a human, don't you know?
I'm only human, I'm human
Sometimes I think I gotta let it show
Show


Terjemahan Lirik Lagu Human Harris J Bahasa Indonesia

Human - Harris J Lirik

- Manusia -

Saya menangis ketika tidak ada yang tahu saya menangis
Saya suka meskipun saya takut
Saya tersenyum karena semua orang tersenyum
Aku berusaha keras untuk menjadi seperti yang lainnya
Aku hidup karena semua orang hidup
Sungguh aneh saya tidak merasa di rumah ketika saya di rumah
Aku benar-benar takut untuk selalu terus memberi
Ketakutan terbesar saya adalah berakhir sendirian

Saya hanya manusia, saya manusia
Hanya manusia, tidak tahukah kamu?
Saya hanya manusia, saya manusia
Terkadang saya pikir saya harus membiarkannya muncul

Hari-hariku selalu lebih baik ketika hari cerah
Rambutku terlihat lebih baik saat hujan
Saya tertawa terlalu banyak ketika hal-hal tidak selalu lucu
Tapi aku sangat pandai menyembunyikan semua rasa sakit
Hal favorit saya yang pernah dilakukan adalah menatap bintang-bintang
Jika aku bisa bersumpah aku akan berbaring di sana setiap hari
Dan semua orang berkata kepada saya, "Ingat siapa kamu."
Tapi orang-orang yang sama membuatku tersesat

Saya hanya manusia, saya manusia
Hanya manusia, tidak tahukah kamu?
Saya hanya manusia, saya manusia
Terkadang saya pikir saya harus membiarkannya muncul
Saya hanya manusia, saya manusia
Hanya manusia, tidak tahukah kamu?
Saya hanya manusia, saya manusia
Terkadang saya pikir saya harus membiarkannya muncul

Untuk saat ini aku hidup, suatu hari aku akan mati
Saya harap saya puas dengan fakta bahwa saya sudah mencoba
Tidak perlu penyesalan saya, tinggalkan semuanya di telepon
Karena hidup ini adalah milikku

Saya hanya manusia, saya manusia
Hanya manusia, tidak tahukah kamu?
Saya hanya manusia, saya manusia
Terkadang saya pikir saya harus membiarkannya muncul
Saya hanya manusia, saya manusia
Hanya manusia, tidak tahukah kamu?
Saya hanya manusia, saya manusia
Terkadang saya pikir saya harus membiarkannya muncul
Menunjukkan


Note : Silakan membeli melalui media resmi seperti Spotify, Deezer, itunes, dan media pembelian musik lainnya.

Selasa, 11 Juni 2019

Fatamorgana ( rasa kecewa dalam dadaku )


Sebelum aku menuliskan catatan panjang ini, aku ingin minta maaf kepada hatiku sendiri Yang terlalu banyak ku gunakan untuk berharap.

Ketika aku menulis bagian ini, kepala dan hatiku begitu sinkron dengan rasa kecewa dan marah atas harapan -harapan Yang ku semai dalam hatiku,lalu menjadi racun dalam tubuhku.

Aku juga ingin minta maaf kepadamu, Yang mungkin saja membaca catatan ini. Maaf untuk namamu Yang masih begitu mengarat dalam hatiku, namamu Yang selalu jadi penyemangat Saat racun harapan mematikan rasa ku. kamu tidak salah, aku lah yang terlalu berharap mengirai setiap majas dalam puisimu ada aku di dalamnya, mengira bahwa topik tulisanmu adalah aku.

Sejujurnya ada banyak impian yang ingin aku rangkai bersamamu, tapi sekali lagi aku sadar aku bukanlah bagian dari impianmu. Aku yang terlalu pemaksa ya? Memaksakan hatimu untuk menerimaku. Maafkan Aku, tapi izinkan Aku jujur dalam catatan ini.  Untukmu mungkin bagimu tidak pernah ada "kita" tapi bagiku "kita" akan selalu ada.

Dan Ternyata, harapan itu seperti racun ya? Semakin kita memupuknya dengan sehat Semakin besar pula harapan itu meneggelamkan dalam lautan kecewa. Aku sadar, tak ada tempat Yang tepat untuk diriku disisimu, aku tahu jelas itu tapi puisiku selalu menjadikanmu nada-nada Yang mengerat dalam rinduku. Kadang, banyak hal tentang dirimu yang ingin kupercayai memang tercipta untukku,tapi kau masih membisu dan aku tahu dia masih bertahta dalam hatimu bukan? Hari -Hari ku kemarin, ku gunakan untuk meredam rasa rindu dalam dadaku, ingin mengatakannya padamu namun lagi-lagi rasa kecewa kau berikan padaku.

Pernahkah kau merasakan jadi aku? Ingin berharap namun terlalu sering kecewa namun ingin pergi senyummu selalu membuatku kembali.  Sedangkan kamu, kamu tidak pernah jujur tentang rasamu! Lalu bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu rasakan? Kamu biarkan aku meraba -raba isi hatimu yang selalu membuatku ingin marah karena kecewa. Katakan dimana letak salahku? Aku tak ingin pergi, tapi aku ingin meredam harapan yang kutanam dalam hatiku. Kubiarkan kamu bahagia dengan siapapun yang menjadi pilihanmu. Sedangkan aku? Biarkan aku menggengam rindu dan selalu ingin tahu kabarmu.

setelah catatan ini ku akhiri aku ingin mengatakan aku tidak benar-benar pergi, hanya memberikan kamu kesempatan untuk kembali kepada pemilik hatimu. Meskipun itu bukan aku, aku akan menjadi lelaki pertama yang tersenyum untuk mendukungmu.

-Puisi Hujan-

Selasa, 04 Juni 2019

Nyanyian ombak

Segagah sang surya dengan jubah jingganya kala senja.
Sesejuk menatap samudra yang menjatuhi peluk pada si pemilik cahaya.
Semerdu debur ombak yang nyanyiannya selalu dirindui pecandu aksara

Namun.
Aku melihat sang surya tertunduk lesu.
Aku mendengar samudra mengeluh rindu.
Aku bisa memahami lelahnya ombak mengejar dan tak pernah saling temu.

Mereka semua hanya saling jaga. Mereka begitu pandai menyembunyikan luka.

Demi sang surya, agar tetap gagah diangkasa.
Demi samudra, agar tetap indah kala senja.
Demi debur ombak, agar tetap bernyanyi berirama.

Sungguh.
Mereka begitu pandai menyembunyikan luka.
Bermain drama kala senja.
Agar tetap indah dimata manusia.

Tersesat

Anjing-anjing melonglong disetiap gang, berteriak lantang.
petang kali ini akan semakin panjang.
Aku tersesat dan tak ingin pulang, menikmati redup lampu taman terasa lebih menyenangkan daripada silau perkotaan, terlalu berisik, udara serasa mencekik.

Aku merebah pada rerumputan, warna hijaunya tersamarkan kegelapan, menatap langit malam yang nyaris sempurna hitam legam. Angin berhembus sedikit kencang, mebawa mendung menutup gemintang, reranting pohon berderit saling bergesekan, menghempas daun-daun tua meninggalkan pohonnya, jatuh membusuk menjadi kompos yang mulia.

Aku harap malam ini butiran hujan jatuh. Membawa serta gemuruh  berserta kilatan cahaya menggelegar diangkasa. tidak lama setelahnya, hujan benar-benar membasahi semesta, deras, bergemuruh, seperti yg kupinta. Tangan kanan ku aku angkat keatas aku biarkan telapaknya merasakan gelitik dari butiran air yang berjatuhan. Tubuh ku basah, tak apa aku suka, aku memejamkan mata, merasakan tetesan air itu menghantam telapak tangan kananku yg sejak tadi menapak ke udara, dingin, benar-benar dingin, ia menerobos masuk melalui pori-pori,  menjalar melewati pembuluh darah, lantas berhenti di jantung, menyapa, ada yg membeku disana, meratapi kenestapaan, ada yg lebih dingin dari hujan malam ini, ada yg lebih dulu menggigil mendahului basahnya tubuh ini.

Seketika kerongkonganku terasa sakit, bola mataku menghangat, tangisku pecah, air mataku tersamarkan hujan, Isak ku lenyap di telan gemuruh.
Malam ini akan semakin panjang.
Aku masih tersesat, dan tak ingin pulang.

Sabtu, 01 Juni 2019

Masih,.. tentang kamu

Kita pernah berjalan beriringan
Menertawakan hal-hal yg tak penting yg kita temukan
Dan jika aku menutup mata aku masih bisa mendengarnya
Suaramu mengalun jelas ditelingaku dengan indah

Dan saat aku merasa sepi
Bayangmu masih setia menemani
Aku akan terus menjaga semua hal yg masih tersisa
Yg tetap bersinar terang dan tak pernah musnah

Bagaikan langit dimalam hari
Bertabur bintang-bintang yg indah menyinari
Aku mengingat senyummu
Dan senyuman itu masih menjadi hal yg selalu aku rindu

Kadang aku berharap kita masih seperti hari itu
Masih seperti anak kecil yg lugu
Melewati berbagai musim bersama
Dan menatap mimpi yg sama

Meski kita tak lagi bersama
Meski kau tak berubah atau mulai berubah
Kamu tetaplah kamu
Sosok yg masih memenuhi isi diotak dan hatiku

Apa yg kau lihat saat ini?
Apa yg aku lihat saat ini?
Diantara jutaan cahaya yg bersinar cerah
Aku pun perlahan meneteskan air mata.

Rabu, 08 Mei 2019

KUCUMBU TUBUH INDAHKU : NARASI GETIR DAN TRAUMA

Tiket bioskop ini akhirnya jatuh ke tangan saya juga. Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pun sudah saya tonton. Bolehlah sekarang saya berkomentar atas film ini setelah sekian lama gatel ingin berkomentar.

Biar enteng berkomentar, saya harus “membunuh” Garin Nugroho lebih dulu. Kok gitu? Mengutip Roland Barthes (1915-1980), semiolog Prancis, pengarang itu mati begitu karyanya diterbitkan. Karya itu hidup sendiri dan berdialog dengan audiensnya. Demikian juga dengan film Garin ini. Sekarang, ia bebas dinikmati dan ditafsirkan sendiri oleh penonton. Tanpa terlalu terbebani untuk memikirkan maksud sang sutradara.

“Film ini keren banget!” Kata saya di tengah kegaduhan menolak dan memboikot film yang dianggap mempromosikan LGBT itu. Film ini, bagi saya, kental bermuatan filsafat manusia. Ia bicara soal ketubuhan, trauma, kekuasaan, dan kekerasan. Sinematiknya pas, kadang tampak teatrikal.

Soal trauma, Garin mengangkat trauma Peristiwa 1965. Trauma ini memengaruhi kehidupan tokoh-tokoh cerita film tersebut lintas generasi. Termasuk hidup Juno, karakter utama film ini. Trauma ini tergambar jelas dalam dialog Juno dengan pakdhenya.

"Setiap tubuh punya trauma. Keluarga besar kita penuh dengan trauma badan. Bapakmu selalu pergi ke sungai itu karena trauma waktu kecil melihat keluarga besar kita dibantai di sungai itu,” ujar pakdhe Juno yang berprofesi sebagai tukang jahit kampung.

Bapak Juno adalah seorang dalang. Ia dituduh komunis hanya karena pernah diundang pentas di acara partai. “Tahun 1965, keluarga kita yang tersisa jadi terasing. Mereka memilih kerja diam-diam dan sendiri. Bapakmu saiki lari ke pulau lain. Jauh dan tak mau mendekat sungai itu,” katanya.

Mendengar dialog itu, saya kemudian membayangkan bagaimana Soeharto dengan militernya membantai orang-orang yang dituduh PKI. Membuang tubuh-tubuh mati mereka di sungai. Sungai pun memerah darah.

Di situasi itu, pakdhe menasihati Juno agar tak lari dari kenyataan. “Semua trauma itu bagian dari hidup. Kamu harus mencintai badanmu. Itu yang membawa hidupmu,” kata pakdhe Juno sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Trauma sejarah itu mengental dalam diri Juno, bocah lanang bertubuh lembut yang menjadi penari Lengger. Menurut sejarah, tari asal Banyumas ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tari ini dipentaskan oleh laki-laki. Mereka menari dan berdandan seperti perempuan. Tak ayal, banyak pihak antitari ini menganggapnya sebagai praktik LGBT.

Stigmatisasi dan kekerasan pada tubuh ini tergambar jelas dalam adegan-adegan film. Ini cenderung dilakukan oleh mereka yang merasa memegang kekuasaan. Kata Michel Foucault (1926-1984), pemikir Prancis, kekuasaan itu ada di mana-mana. Kekuasaan ini satu dimensi dengan relasi. Di mana ada relasi, di situ ada kekuasaan. Di film itu, kekuasaan menindas itu hadir di relasi politik, moral, ekonomi, gender, guru-murid, hingga ruang privat bernama rumah.

Di politik, stigmatisasi ini muncul dalam adegan bupati yang sedang bertarung dalam pilkada. Suatu ketika, karena alasan politik dan kecemburuan, Juno dan klub tari Lenggernya dilabeli komunis. “Kalau mereka macam-macam, bilang saja mereka adalah PKI baru,” ucap sang bupati. Bupati segera mengirim orang bayarannya dengan satu pesan. “Kowe-kowe kudu reti. Jangan sampai ninggalin jejak. Kalau sampai ninggal jejak, jejakmu aku hapus.”

Kekerasan atas nama moral terjadi dengan pengusiran paguyuban seni Lengger. Istri bupati bilang, kelompok Juno harus diusir dari masyarakat karena hanya akan merusak moral anak-anak muda. Hal yang sama terjadi ketika warga kampung menggelandang tubuh guru tari perempuan karena dituduh melakukan tindakan asusila terhadap muridnya. Nah, bukankah kedua isu ini selalu renyah digoreng di masa pemilu, seperti pemilu tahun ini? Di sinilah, relevansi film Garin dengan kekinian.

Ada dialog menohok praktik politik kotor tersebut. Ini diungkapkan oleh teman (baca: pacar gelap) perempuan istri bupati. “Caramu menang itu merusak hidup. Kamu akan sepi seumur hidupmu. Tubuhmu sepi. Apa pun kemenanganmu, kamu akan kalah. Hidupmu sepi.” Ini seolah menjadi peringatan bagi para politikus yang doyan berkontestasi dengan cara-cara kotor.

Kekerasan ekonomi terwakili oleh sosok petinju, pelanggan jahit baju sekaligus teman baru Juno. Lelaki ini mengaku terpaksa jadi petinju karena lahan tani di kampungnya habis. Ia harus bekerja. Dia anak sulung dan memiliki banyak adik. Mereka semua butuh makan.Terpaksa ia “menjual” tubuh atletisnya.

Mimpi petinju itu untuk menguasai tubuhnya sendiri kandas. Ia terperangkap dalam permainan preman bermodal. Preman ini menjadikan tubuhnya sebagai alat judi. Preman itu akan memberinya uang jika ia menang. Sayangnya, petinju itu kalah. Ia terpaksa memberikan tubuhnya untuk disembelih, diambil ginjalnya dan dijual.

Kekerasan atas tubuh juga terjadi di kelas. Guru, si pemegang kekuasaan, menjadi pelakunya. Dianggap bikin onar, Juno kecil dihukum gurunya menulis di papan tulis dengan kapur yang ada di mulutnya. Di rumah pun demikian. Juno harus menerima hukuman badan karena dinilai tak menuruti nasihat bibinya. Ia dihukum dengan ditusuk jarinya dengan jarum hingga berdarah.

Kekerasan demi kekerasan menimbulkan trauma. Saat masih kecil, Juno menyaksikan bagaimana seorang guru tari Lengger membantai tubuh murid lanangnya dengan clurit. Darah muncrat ke mana-mana. Sampai sini pertanyaan muncul: siapa sebenarnya pemilik otonomi atas tubuh itu?

Nampaknya, tragedi tubuh akan terus terjadi, kapan pun dan di mana pun. Hal ini kentara diteriakkan oleh Juno saat melihat pertarungan berdarah antarwarok berclurit. “Nang endi-endi getih, nang endi-endi getih atau di mana-mana darah, di mana-mana darah,” teriak Juno ketakutan sembari membasahi tubuhnya di bak air.

Film Garin ini sarat pesan dan kritik sosial. Hampir selalu, kekuasaan itu cenderung menindas dan memunculkan trauma bagi korban. Dan, tragedi kemanusiaan tampil paling benderang dalam penghancuran tubuh. Penghancuran ini terjadi karena kebencian dan rasa lebih berkuasa untuk melenyapkan liyan atau yang berbeda dengannya. Entah beda kepercayaan, agama, preferensi seksual, ras, suku, hingga pilihan politik. Tubuh merekam trauma dan sejarah kekerasan itu. Tubuh yang dilukai, dibakar, dipukuli, diperkosa, hingga ditembaki.

Pesan ini jauh lebih dalam dari sekadar kekuatiran norak mereka yang memboikot film ini karena alasan LGBT. Fenomena boikot ini justru memperingatkan kita bahwa ancaman kekerasan pada tubuh itu masih nyata hingga hari ini. Atas nama kuasa moral dan agama, orang-orang LGBT masih mengalami persekusi, perlakuan seperti binatang, dan kekerasan yang bahkan berujung pada kematian.

Jadi, siapa sebenarnya pemilik otonomi tubuh manusia itu? Juno beberapa kali dalam film itu mencoba melukai tubuhnya dengan jarum. Jarinya berdarah dan ia merasakan sakit. Nah, di sini ada pesan moral kuat. Kalau itu menyakitkan diri kita, jangan lakukan itu pada orang lain. Immanuel Kant (1724-1804) bilang, apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, maka jangan lakukan itu kepada orang lain.

Apakah itu sudah cukup? Tampaknya tidak. Pikiran dan jiwa kita kadang merasa lebih berkuasa pada tubuh. Lalu memperlakukan tubuh semena-mena dengan bekerja tanpa istirahat. Padahal tubuh perlu didengarkan. Tubuh pun butuh kasih sayang. Hal ini tersirat dalam kutipan sang petinju itu. “Aku anak paling gede. Dari kecil, aku selalu dengar, tanggung jawabmu kuwi gede, le. Kerjo, kerjo, kerjo. Ora pernah sekali pun aku ngerasakno dipeluk,” katanya.

Tulisan ini saya selesaikan lima hari usai para polisi Bandung menelanjangi dan menggunduli ratusan ABG peserta May Day yang dicap kelompok anarko-sindikalis. Sehari setelah Andre Taulany dilaporkan polisi terkait dugaan penistaan agama. Hingga eksploitasi kasus Vanessa Angel tak henti-henti.

Dan, untuk segala upaya memboikot dan melarang film ini dengan alasan agama dan moralitas sempit, hanya satu kata: lawan!

— Bogor , 8 Mei 2019