Rabu, 09 Januari 2019

SAHABAT




 SAHABAT KU : Setyo Pandu Winoto




Untuk seorang yang pernah hadir pada sejarah hidupku, aku berterimakasih atas kebaikanmu dalam mengingatkanku, aku berterimakasih dan meminta maaf jikalau aku sering mengabaikan nasehatmu, jujur kadang aku tau kamu benar namun rasa gengsiku terlalu tinggi untuk meng "iya" kan ucapanmu
---
Maaf, aku terlalu egois bahkan untuk kebaikanku sendiri yang kamu saja memikirkannya,
Maaf, aku belum bisa mengingatkanmu jika kamu melakukan kesalahan karna kurang fahamnya aku tentang agama,
Maaf, dulu aku belum terfikir untuk bisa bersamamu sampai sejauh ini.
Maaf, untuk semua kesalahan yg kuperbuat sedang kamu memberiku kebaikan. .
---
Kalau boleh, aku ingin diajari olehmu
Termasuk perihal menjadi sahabat yg saling mengingatkan kesalahan, sekalipun mungkin kadang ketika kita saling mengingatkan ada rasa sedikit canggung ataupun sungkan yg melingkupi hati,
Tapi itu tak masalah, kita jalani saja semuanya,
Sebagai sepasang sahabat yg saling memberikan arti sahabat yg sesungguhnya, bukan diam ketika sahabatnya dipermainkan dosa.
---
Untukmu, semoga kebaikan terlimpah padamu,
Pada hidup dan wafatmu, karna aku tau kita disini sementara dan akan berpulang pada saatnya... .
---
Jika aku berpulang lebih dulu, maka mohonkan ampun untukku, dan jika kamu berpulang lebih dulu, aku akan berdoa pula untuk mu sahabat tercintaku.


Bogor, 09 Januari 2019

SAHABAT MU : Dedi Susanto / Dedy Fortozora


inspired by : ustadz munawir 

Kamis, 03 Januari 2019

Arah tak Bermuara

Beberapa minggu lalu aku kehilangan gairah menulis
Padahal biasanya aku hanya butuh secangkir teh hangat dan sedikit gerimis
Atau, sekilas mengingat senyummu, senyum seorang gadis memakai rok panjang dengan baju longgar dan kerudung syar'i. dengan imajinasi itu mampu ku lahirkan puisi manis berlapis-lapis.
Masih tidak ter arah tulisan ini untuk siapa, aku hanya gelisah dan mencoba menuangkan segalanya.

Pukul lima sore
Hujan membumi membasahi seluruh tapak jalan kota bogor
Anak-anak kecil berlarian tanpa busana dan alas kaki, tertawa, beberapa diteriaki ibunya, dengan langkah gontai dan wajah tentunduk lesu. ia berakhir menjadi penonton dari beranda rumah dan yang satunya mengintip dari jendela kaca lantai dua.

Untukmu, kelak anakku jangan kau tarik telinganya ketika hujan tiba, padahal kakinya gatal sekali ingin menjejak rumput basah di taman.
Biarkan ia menyukai hujan seperti ayahnya, biarkan ia berlarian dan tertawa bersama teman-temannya.
Biarkan ia mengukir kenangan yang tidak terlupakan.
Karena kelak jika ia dewasa, ketika hujan tiba, ia akan memilih menyeruput mie kuah panas dan berselimut didalam kamar.
Masa kanak nya cukup singkat dan hanya sekali sayang.
Untukmu, kelak aku akan menua, aku tak akan puitis dan menarik selamanya. Ekspektasimu akan terbentang jauh dari realita.
Apapun keadaanku
Jangan beranjak pergi
Aku ingin menua dan mati
Bersamamu.

Ah, lagi-lagi tulisan ini bermuara padamu,
wanita dengan kerudung syar'i dan baju longgar dalam imajinasiku
Hey nona.
Aku mencintaimu.
.


Bogor, 03 Januari 2019