Kamis, 03 Januari 2019

Arah tak Bermuara

Beberapa minggu lalu aku kehilangan gairah menulis
Padahal biasanya aku hanya butuh secangkir teh hangat dan sedikit gerimis
Atau, sekilas mengingat senyummu, senyum seorang gadis memakai rok panjang dengan baju longgar dan kerudung syar'i. dengan imajinasi itu mampu ku lahirkan puisi manis berlapis-lapis.
Masih tidak ter arah tulisan ini untuk siapa, aku hanya gelisah dan mencoba menuangkan segalanya.

Pukul lima sore
Hujan membumi membasahi seluruh tapak jalan kota bogor
Anak-anak kecil berlarian tanpa busana dan alas kaki, tertawa, beberapa diteriaki ibunya, dengan langkah gontai dan wajah tentunduk lesu. ia berakhir menjadi penonton dari beranda rumah dan yang satunya mengintip dari jendela kaca lantai dua.

Untukmu, kelak anakku jangan kau tarik telinganya ketika hujan tiba, padahal kakinya gatal sekali ingin menjejak rumput basah di taman.
Biarkan ia menyukai hujan seperti ayahnya, biarkan ia berlarian dan tertawa bersama teman-temannya.
Biarkan ia mengukir kenangan yang tidak terlupakan.
Karena kelak jika ia dewasa, ketika hujan tiba, ia akan memilih menyeruput mie kuah panas dan berselimut didalam kamar.
Masa kanak nya cukup singkat dan hanya sekali sayang.
Untukmu, kelak aku akan menua, aku tak akan puitis dan menarik selamanya. Ekspektasimu akan terbentang jauh dari realita.
Apapun keadaanku
Jangan beranjak pergi
Aku ingin menua dan mati
Bersamamu.

Ah, lagi-lagi tulisan ini bermuara padamu,
wanita dengan kerudung syar'i dan baju longgar dalam imajinasiku
Hey nona.
Aku mencintaimu.
.


Bogor, 03 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar