Sebelum aku menuliskan catatan panjang ini, aku ingin minta maaf kepada hatiku sendiri Yang terlalu banyak ku gunakan untuk berharap.
Ketika aku menulis bagian ini, kepala dan hatiku begitu sinkron dengan rasa kecewa dan marah atas harapan -harapan Yang ku semai dalam hatiku,lalu menjadi racun dalam tubuhku.
Aku juga ingin minta maaf kepadamu, Yang mungkin saja membaca catatan ini. Maaf untuk namamu Yang masih begitu mengarat dalam hatiku, namamu Yang selalu jadi penyemangat Saat racun harapan mematikan rasa ku. kamu tidak salah, aku lah yang terlalu berharap mengirai setiap majas dalam puisimu ada aku di dalamnya, mengira bahwa topik tulisanmu adalah aku.
Sejujurnya ada banyak impian yang ingin aku rangkai bersamamu, tapi sekali lagi aku sadar aku bukanlah bagian dari impianmu. Aku yang terlalu pemaksa ya? Memaksakan hatimu untuk menerimaku. Maafkan Aku, tapi izinkan Aku jujur dalam catatan ini. Untukmu mungkin bagimu tidak pernah ada "kita" tapi bagiku "kita" akan selalu ada.
Dan Ternyata, harapan itu seperti racun ya? Semakin kita memupuknya dengan sehat Semakin besar pula harapan itu meneggelamkan dalam lautan kecewa. Aku sadar, tak ada tempat Yang tepat untuk diriku disisimu, aku tahu jelas itu tapi puisiku selalu menjadikanmu nada-nada Yang mengerat dalam rinduku. Kadang, banyak hal tentang dirimu yang ingin kupercayai memang tercipta untukku,tapi kau masih membisu dan aku tahu dia masih bertahta dalam hatimu bukan? Hari -Hari ku kemarin, ku gunakan untuk meredam rasa rindu dalam dadaku, ingin mengatakannya padamu namun lagi-lagi rasa kecewa kau berikan padaku.
Pernahkah kau merasakan jadi aku? Ingin berharap namun terlalu sering kecewa namun ingin pergi senyummu selalu membuatku kembali. Sedangkan kamu, kamu tidak pernah jujur tentang rasamu! Lalu bagaimana aku bisa tahu apa yang kamu rasakan? Kamu biarkan aku meraba -raba isi hatimu yang selalu membuatku ingin marah karena kecewa. Katakan dimana letak salahku? Aku tak ingin pergi, tapi aku ingin meredam harapan yang kutanam dalam hatiku. Kubiarkan kamu bahagia dengan siapapun yang menjadi pilihanmu. Sedangkan aku? Biarkan aku menggengam rindu dan selalu ingin tahu kabarmu.
setelah catatan ini ku akhiri aku ingin mengatakan aku tidak benar-benar pergi, hanya memberikan kamu kesempatan untuk kembali kepada pemilik hatimu. Meskipun itu bukan aku, aku akan menjadi lelaki pertama yang tersenyum untuk mendukungmu.
-Puisi Hujan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar