Anjing-anjing melonglong disetiap gang, berteriak lantang.
petang kali ini akan semakin panjang.
Aku tersesat dan tak ingin pulang, menikmati redup lampu taman terasa lebih menyenangkan daripada silau perkotaan, terlalu berisik, udara serasa mencekik.
Aku merebah pada rerumputan, warna hijaunya tersamarkan kegelapan, menatap langit malam yang nyaris sempurna hitam legam. Angin berhembus sedikit kencang, mebawa mendung menutup gemintang, reranting pohon berderit saling bergesekan, menghempas daun-daun tua meninggalkan pohonnya, jatuh membusuk menjadi kompos yang mulia.
Aku harap malam ini butiran hujan jatuh. Membawa serta gemuruh berserta kilatan cahaya menggelegar diangkasa. tidak lama setelahnya, hujan benar-benar membasahi semesta, deras, bergemuruh, seperti yg kupinta. Tangan kanan ku aku angkat keatas aku biarkan telapaknya merasakan gelitik dari butiran air yang berjatuhan. Tubuh ku basah, tak apa aku suka, aku memejamkan mata, merasakan tetesan air itu menghantam telapak tangan kananku yg sejak tadi menapak ke udara, dingin, benar-benar dingin, ia menerobos masuk melalui pori-pori, menjalar melewati pembuluh darah, lantas berhenti di jantung, menyapa, ada yg membeku disana, meratapi kenestapaan, ada yg lebih dingin dari hujan malam ini, ada yg lebih dulu menggigil mendahului basahnya tubuh ini.
Seketika kerongkonganku terasa sakit, bola mataku menghangat, tangisku pecah, air mataku tersamarkan hujan, Isak ku lenyap di telan gemuruh.
Malam ini akan semakin panjang.
Aku masih tersesat, dan tak ingin pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar