Senin, 25 Juni 2018

Bertahan pada kenyataan atau melupakan

Mengalah
Iya, lagi-lagi aku mengalah
Kenyataan menampar hati untuk kesekian kali
Entah,... Entah harus apa dan bagaimana
Bertahan atau melupakan
Dua-duanya sama-sama menyakitkan
Diam membuat luka tak kunjung padam
Redam semalam, lalu kembali lebam

Jujur, aku ingin menyerah.
Namun, hati masih mencintai
Namun, yang kucintai sama sekali tidak pernah mengerti

Lalu, mencoba mencari celah. Namun, caraku salah
Aku semakin teraniaya oleh luka yang menganga
Diam pun percuma
Bicara membuat luka tak kunjung reda

Pada lembar malam yang kusam, aku mengumbar.
Beban, duka, luka dan air mata
Semua sudah terlalu lama
Mengendap dalam dada

Aku hanya sebelah mata, yang sekadarnya
Aku hanya sebelah mata,  yang hanya sesekali di hati
Aku hanya sebelah mata, yang kapan saja bisa ia tinggal pergi
Aku,. Iya aku Selalu ditampar kenyataan

Jika memilih pergi tidak sesakit ini, aku sudah pergi
Jika memilih bertahan tak menyakitkan Mungkin, aku tak akan berpikir ingin pergi

Terima kasih, kau mengajarkan kenyataan yang kejam
Terima kasih,  kau mengajarkan kepatahan
Terima kasih, kau mengajarkan aku bahwa yang dicintai belum tentu mencintai,.
Mungkin saja, itu adalah simpati yang ia beri karena mengasihani.

dan saat ini,. Yang kubisa hanya melupakan
Lalu, bertahan dan perlahan melepaskan
Kau akan sadari nanti
Setelah yang kau pandang sebelah mata, tak lagi di sisi
Kau akan menyadari nanti, Bahwa aku tak akan kembali
Kenapa ?
Karena tumpukan luka telah merdeka memenuhi dada
dan kau puas ?
Kau akan merasakan yang sama; Kehilangan
Setelah itu, waktu berlalu, dan waktu sesekali mencoba menamparmu oleh ingatan, dan kau mencoba mencari aku yang bersembunyi rapi di relung sepi
Usahamu gagal, aku tak akan lagi menampakkan diri.
Sebab, sendiri lebih menyenangkan
Dibanding berdua yang penuh luka menganga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar