Senja selalu saja menuntunku dalam cemas yg tak tentu.
Menculik satu persatu kelip bintang yg biasa kita eja diberanda pada malam-malam itu.
Entah sudah berapa lama aku tak menyalahkan lentera dikepalaku.
Untuk mengingat bahwa matamu adalah kunang-kunang penghias gulitaku.
Senja selalu saja mengajakku dalam gelisah.
Dan bagaimana lagi aku bisa mengingatmu saat gelap melanda?
Sedangkan kenangan semakin surut bersama magrib yg basah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar