Rabu, 21 Februari 2018

Surat untuk Tuhan

Lama sudah aku menanti sebuah keajaiban, hingga akhirnya tumbuhlah harapan yg begitu tinggi dalam diri ini. Harapan itu tak pernah padam, harapan itu hanya satu kata yaitu "sembuh".
Satu yg tak pernah kusangka ternyata aku harus bersahabat dengan kanker, ragaku dikuasai olehnya, dan bukan hanya sekarang, tapi mungkin selamanya. Kesabaran selalu menemaniku saat aku berusaha menahan yg sudah kurasakan selama setahun ini., meski terkadang airmata tak henti-hentinya menetes dipipiku, air mataku menetes saat itu  karena aku merasa belum siap menerima kenyataan, aku masih ingin merasakan indahnya sehat, walau tangis tak membuat kanker ini pergi, tapi setidaknya tangis telah mengurangi beban dalam diriku. Aku berusaha tegar menerima segalanya, menerima sakit ini, layak tegarnya karang yg dihempas ombak lautan.

Harapan untuk sembuh itu tak pernah hilang, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun,. Dan kini "serigala" itu telah menggerogoti organ tubuhku serta berkuasa didalamnya telah satu tahun lamanya. Aku tak tahu apa yg dicari dan diinginkan serigala itu hingga tubuhkulah yg dipilih untuk dikuasainya. Tapi aku percaya Engkau telah memberi tugas kepada kanker ini untuk menguji seberapa besar kesabaranku, untuk memberikan beribu hikmah dan makna dalam hidup yg dulu belum pernah aku rasakan kenikmatan itu dan betapa besar manfaatnya untuk hidupku. Dan aku mulai menerima, karena aku yakin ini adalah tanda kasih sayang-Mu kepadaku.

Bagiku aku adalah orang pilihan karena aku yakin tidak semua orang bisa melewati semua ini., bnyak orang yg lebih memilih mengakhiri hidup sebelum waktunya karena merasa tak sanggup untuk melewatinya.

Aku yakin, tidak semua orang mampu melewati ujian yang begitu berat ini. Awalnya akupun begitu. Keputusasaan mulai menghampiriku, aku selalu menangis   menangisi takdir yg tak berpihak kepadaku,. Tapi semuanya berubah, seiring datangnya berbagai dukungan kepadaku, dari kluargaku, dari dokter yg menanganiku, dari teman-temanku, saat mereka memberi dukungan itu aku kembali menangis, tapi bukan tangis keputusasaan, tapi aku menyesal kenapa aku harus menangisi takdir ini.
Karena aku yakin ini adalah jalan terbaik dalam hidupku. Dan aku bersyukur karena sakit ini telah membuat hidupku lebih berarti, membuatku lebih tahu betapa banyak orang yang menyayangiku,.
Dan satu permintaanku, jika aku menghadap-Mu nanti, izinkan aku berada di tempat yg paling indah dan bahagia berada disisi - Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar