Rabu, 21 Februari 2018

Sekeping Hati yang Cedera


Pada lamunan yg entah mengarah kemana.
Aku menyesap secangkir teh dengan sedikit gula.
Dibalik jendela tak bertirai.
Rintik hujan kembali menyapa sekeping hati yg sedang dilanda cedera.

Kamu tahu ???
Hujan itu hanyalah sekumpulan resah,
yg meniadakan semua gelisah.

Seperti inginku untuk merengkuhmu dalam sebuah peluk dan meniadakan gundahmu.
Atau mungkin justru aku yg sedang menghilangkan gundahku akanmu, entahlah......

Seperti mereka.
Akupun ingin selalu bisa datang menemuimu dengan bebas tanpa apapun.
Seperti bintang yg menghiasi malam dengan keindahannya.
Nyatanya, malamku hanya ada rintik-rintik hujan.

Dan entah pada sesapan teh keberapa, ketika hujan berubah menjadi gerimis.
Aku yg terlalu terlarut akan kenangan kita yg dulu begitu manis.
Aku terlupa akan garis hidup yg aku tempuh.
Sebab semua yg aku ingat hanya kamu dan kamu.

Apakah semua harapan ini harus diselesaikan.
Ketika rindu ini mulai memberatkan langka kaki.
Namun aku masih ingin menuliskan tentangmu dan segala kerinduan.
Dan aku tak tau pada kalimat mana semua harus aku sudahi.

Karna dari semua yg ada, hanya kamu yg aku sebut rindu.
Hingga aku menyediakan diri untuk luka yg terus menggerogati kewarasanku.
Sebab, kamu telah menjadi rindu yg tak berjeda.
Yang takkan pernah usai, entah sampai kapan dan dimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar