Selasa, 10 April 2018

Yang tulus Terabaikan

Aku pernah mencintai dengan teramat dalam.
Tapi ia melepaskan tanpa mau mempertimbangkan.
Aku juga pernah melakukan apapun untuk kebahagiaannya.
Tapi ia malah mematahkan kebahagiaanku tanpa ada alasannya.
Bahkan aku juga pernah berjuang mati-matian.
Tapi dengan enyahnya dia malah melepaskan.

Apa aku membencinya? Tak berkata-
Benciku bagaikan sebuah narasi tapi ingin terus bertemu paragraf baru ketika bertemu titik. Tak terhenti- Ingin terus menerus benci.
Karena selama ini merasa paling tersakiti.

Lalu apa aku peduli sekarang? Tidak-
Apapun posisinya. Apapun bentuknya. Aku tak mau tau tentangnya.
Bahkan kebiasaan yang sejak dulu melekat dipikiran, ku singkirkan dengan perlahan.
Tak ingin- Sudah muak !
Semua teramat sakit dengan caranya tanpa penjelasan.
menyebalkan-

Jika tau pada akhirnya begini, tak akan ku biarkan dia menjajah hatiku sesempurna ini.
Tak ku biarkan dia memporak porandakan kebahagiaan yang ku bangun sejauh ini.
Tak ku biarkan, dia membawa hatiku lalu mengembalikan dengan hati yang tak berbentuk lagi.
Ia jahat, sekarang.

Tapi aku mencintainya dengan begitu dalam,
dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar